.Bismillah

.Bismillah

Minggu, 03 Maret 2013

DAR AL-MUSTHAFA


Pendahuluan
Sesungguhnya yang menjaga syari’at lebih dari 14 abad bukanlah suatu kelemahan atau ketidak mampuan seseorang untuk menjaganya di abad yang akan datang, semenjak Sayyidina Al-Muhajir Ahmad bin Isa memegamg bendera da’wah sampai sekarang ini telah berlalu 1100 tahun, akan tetapi tetaplah kokoh dan tangguh, dan masih tercium harum aroma da’wah ilallah.
Diantara waktu tersebut sampai sekarang ini, berapa banyak da’wah yang tersebar keberbagai penjuru alam. Mengapa tidak padam semangat da’wak tersebut? Kerena kekokohan da’wah tersebut seperti kekokohan da’wah Al-Muhajir Al-Awal SAW.
Dengan kekokohan da’wah yang tampak itu tersebarlah tempat ilmu, adab, dan da’wah di negeri Hadramaut umumnya dan Tarim pada khususnya yang terbit cahaya yang terang benderang dengan ilmu Islam dan dikatakan bahwa sepertiga dunia Islam masuk Islam penduduknya berkat da’wah ulama Hadramaut yang perintisnya Sayyidina Al-Muhajir Ahmad bin Isa yang keluar dengan agamanya dari kota Basyrah ke kota Hadramaut pada abad ketiga hijriyah, dan negeri yang penuh berkat ini terhias dengan hiasan ilmu, ikhlas, khauf, dan wara’ sejarah pun telah mengutipnya.
Alhamdulillah, Allah SWT telah menempatkan kita dalam mimbar yang indah dan baik dari mimbar-mimbar ilmu yang sedikit didapatkan yang sepertiganya di dalam dunia Islam pada saat ini dan akan terlihat keluarnya para rijal yang menyebar pada penjuru alam yang membawa bendera untuk mengibarkan da’wahnya sebaik-baik pemimpin (Nabi Muhammad SAW)
Begitulah dengan besar hati dan bangga dengan keterus terangan ini semoga kebaikan menjadi saksi bagi alam. Mereka rijal yang pena mana pun tidak mampu mensifati macam-macam sifat mereka dengan sesuatu yang membawa kalimat dengan maqam-maqam sidiq, ikhlas, dan semangat yang tinggi dalam da’wah ilallah, bagaimana pena-pena akan mampu mensifati mereka cahaya dari obor yang berasal dari cahaya nubuwwah dan obor yang terang benderang dari nur-nya Nabi Muhammad SAW. Sungguh Allah SWT telah menolong agamanya dan menjaga syariatnya dan mereka para rijal semoga Allah SWT meredhai mereka, Amien. 

Latar Belakang
Dar Al-Musthafa adalah satu ibarat dari salah satu pusat ilmu, adab, dakwah ilallah dan juga salah satu bukti dari pemeliharaan Allah SWT akan agamanya dan syariatnya serta bukti pertolongan Allah SWT. Allah SWT berfirman: “..Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya…” (Al-Hijr,ayat 9).
Salah satu sebab didirikannya Dar Al-Musthafa disebabkan banyaknya pelajar yang datang dari berbagai daerah dari negeri Yaman dan juga luar Yaman, yang mereka belajar dan menuntut ilmu-ilmu syari’at di sisi Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim ibn Syekh Abu Bakar bin Salim di kota Tarim Al-Ghanna, maka mereka membutuhkan tempat yang khusus agar memungkinkan mereka menuntut ilmu dan tidak disibukkan dengan kesibukan manusia. Sebelum di bangun Dar Al-Musthafa pelajar tinggal di Rubath Al-Musthafa yang berada di kota Syihir lalu mereka pindah ke kota Tarim dan tinggal di kamar kamar mesjid At-Taqwa dan rumah Assana serta tempat mereka belajar di mesjid Maula Aidied di Tarim, ketika selesai pembangunan Dar Al-Musthafa mereka pindah ke bangunan yang baru yang telah diresmikan lima hari sebelumnya yaitu pada bulan muharam tahun 1417 H.
Dar Al-Musthafa adalah tempat berkumpul dan bertemunya para pelajar pelajar yang datang dari berbagai penjuru dunia, baik itu dari Yaman, Zajirah Arabia, Afrika, Inggeris, Amerika, Asia Timur, Thailan, Singapura, Malaysia dan Indonesia.
Pelajar yang pertama tama datang ke Dar Al-Musthafa adalah pelajar dari Indonesia yang berjumlah sekitar tiga puluh orang pada tahun 1416 hijriah. Itu di sebabkan kunjungan pertama Habib Umar bin Muhammad bin Hafizd ke Indonesia pada tahun 1414 hijriah, kunjungan ini dilaksanakan kerena melaksanakan perintah guru beliau Al-habib Abdul Qadier bin Ahmad Assegaff dan Al-Habib Muhammad bin Abdullah Al-Haddar. Benarlah kata orang “ sesungguhnya kunjungan itu bisa memberi bekas yang besar pada penyebaran ilmu dan pelurusan akhlak serta bisa menggantungkan hati pada dakwah ilallah, dan sebagian dari tujuan kunjungan adalah untuk memberi peringatan bagi orang awam, memberi memfaat kepada orang lain dan juga bertujuan menguatkan ikatan di antara sesama saudara se-Islam dan menyempurnakan persaudaraan sesama muslim diberbagai negara yang berbeda beda. Maka nampaklah bekas yang hebat pada kunjungan Habib Umar bin Muhammad bin Hafizd ke Indonesia dan menjadi bukti pembaruan hubungan antara Indonesia dan Hadramaut dan juga menguatkan ikatan antara sadah alawiyyin dan pencinta mereka di Indonesia dan Hadramaut.
Seiring berjalannya waktu selesailah pelajaran pelajar pelajar tadi di Dar Al-Musthafa pada tahun 1419 hijriah.dan sekarang mereka menyebarkan dakwah di negeri masing masing dan memberikan manfaat untuk umat Islam di desa maupun di kota. Oleh kerana itu Alhamdulillah pada tahun 1421 hijriah jumlah pelajar Indonesia yang berdomisili di kota Tarim sekitar 400 orang. Dari jumlah tersebut dua ratus orang belajar di Dar Al-Musthafa dan sisanya ada yang belajar di Rubath Tarim dan Kuliah Syariah dan Hukum Universitas Al-Ahgaff. 


Nama Lembaga
Dar Al-Musthafa Lembaga Pendidikan Islamiyah. 



Pendiri
1.     Al Habib Ali Masyhur bin Muhammad bin Salim bin Hafidz.
2.     Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz.


Tahun Berdiri
Dimulai pembangunan Dar Al-Musthafa pada bulan Syawal tahun 1410 H dan peresmian pertama pada hari Selasa Tanggal 29 Dzulhijjah 1411 H bertepatan hari wafat Al-Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz ibn Abu Bakar bin Salim, dan peresmian kedua pada bulan Muharram 1417 H. 


Tujuan Didirikannya
Tidaklah dibangun perguruan ini kecuali untuk mencetak ulama ulama yang kuat pada ilmu dan beradab dengan adab nubuwwah, dan memikul beban umat dengan mengajak mereka kejalan Allah SWT dan memberikan manfaat kepada mereka dan menyelamatkan mereka dari kegelapan, kebodohan kecahaya ilmu dan menguatkan keimanan mereka dan mengikat mereka dengan sunnah sunnah Nabi SAW. 


Asas Asas
Sungguh terwujud tujuan yang besar ini dengan peletakan tiga sasaran yang merupakan sebagai tujuan pokok :
1.     Penguasaan ilmu ilmu Islam secara murni.
2.     Pembersihan jiwa dan pemurnian akhlak
3.     Da’wah kejalan Allah


Program Program
Untuk mencapai sasaran dan menghasilkan hasil yang memuaskan Dar Al-Musthafa membuat program program pada tiap tiap tujuan :
1.     Pada ilmu 
Pelajar diberi dua pilihan :
  • Belajar kitab kitab yang sudah ditetapkan di Dar Al-Musthafa.
  •  Menghafal Al Quran disertai dengan belajar fiqh dan nahwu.


2.     Pada suluk
Dianjurkan bagi tiap pelajar meresapi dan mengamalkan akan dasar dasar pada suluk :
  • Pembersihan diri dari sifat sifat tercela.
  • Mempunyai perhatian dengan sunnah-sunnah dan adab Nabi SAW.
  • Beradab dengan pergaulan sesama makhluk. Selalu melazimi petunjuk dan nasehat nasehat. Dalam hal ini Al Habib Umar bin Hafidz mengumpulkan untuk santri santrinya azkar dan aurad dalam satu kitab yang diberi nama “Khulasah Al Madad Annabawi”, yang mana dianjurkan kepada para santri santrinya untuk membacanya pada waktu waktu yang sudah ditentukan.

3.     Pada Da’wah
Pihak pengurus membuat satu jadual bagi para santri yang punya kemauan dalam da’wah, seperti : keluar da’wah mingguan setiap hari kamis sampai hari jum’at, keluar da’wah tahunan selama 40 hari, ini bagi para santri yang membaca kitab ‘Umdatus salik dan menziarahi para ulama, tempat tempat bersejarah, mesjid mesjid dan maqam maqam para aulia yang ada di Hadhramaut. Dan ada juga da’wah dilingkungan Dar Al-Musthafa seperti pertemuan santri santri yang berasal dari satu daerah.


Waktu Belajar
Pelajaran dimulai setelah shalat subuh sampai jam 08.30 pagi, diajarkan tiga mata pelajaran. Tiap-tiap satu mata pelajaran memakan waktu 45 menit. Kemudian pelajaran diteruskan setelah shalat dzuhur, diajarkan satu mata pelajaran. Kemudian pelajaran diteruskan kembali setelah shalat maghrib satu mata pelajaran dan setelah shalat isya setoran hafalan.



Kitab kitab yang diajarkan.
Fiqh
1.     Risalatul jami’ah
2.     Safinatun naja'
3.     Muqaddimatul hadhramiyah
4.     Matan Abi Syuja’
5.     Yakut An Nafis
6.     Umdatus Salikin

Aqidah
1.     Aqidatul Awam
2.     Al Aqidah (karangan Imam haddad)
3.     Durus tauhid
4.     Jauhar tauhid

Nahwu
1.     Matan asas
2.     Al jurumiyah
3.     Mutammimah Aljurumiyah
4.     Qatrun nida

Hadits
1.     Mukhtar Alhadits
2.     Arba’in Nawawiyah
3.     Nurul iman
4.     Mukhtar Riyadushhalihin


Metode pengajaran adalah sistem halaqah. Setelah pelajar meyelesaikan kitab kitab diatas, pelajar diberi pilihan untuk masuk jurusan (takhasus), penjurusannya sebagai berikut :
1.     Al Quran dan ilmunya
2.     Al Hadits dan ilmunya
3.     Sirah
4.     Lughah arabiyah
5.     Fiqh dan ushulnya
Dan juga Dar Al Musthafa mengadakan pesantren kilat pada masa liburan musim panas untuk para mahasiswa mahasiswa, pegawai dan guru guru selama 40 hari, dan juga mengadakan pesantren kilat untuk para kiai selama tiga bulan. 


Sarana dan Fasilitas
Asrama bagi para santri, setiap kamar dilengkapi dengan AC, kipas angin, almari, meja belajar dan ranjang
Toserba
Ruang makan
Warnet
Wartel
Klinik
Perpustakaan
Toko buku
Transportasi sebanyak 4 bis
Money changer
Rumah tamu
Stasiun radio
Travel umrah dan haji

Shollu ‘Alan Nabi



Oleh : K.H.Rahmat Abdullah 
Apa yang kita fikirkan tentang seorang laki-laki berperangai amat mulia, yang lahir dan dibesarkan dicelah-celah kematian demi kematian orang-orang yang amat mengasihinya? Lahir dari rahim sejarah, ketika tak seorangpun mampu menguratkan keperibadian selain keperibadiannya sendiri. Ia produk ta’dib Rabbani (didikan Tuhan) yang menentang mentari dalam panasnya dan menggetarkan jutaan bibir dengan sebutan namanya, saat muaddzin mengumandangkan suara adzan.
Di rumahnya tak dijumpai perabot mahal. Ia akan makan di lantai seperti orang biasa, padahal raja-raja dunia iri terhadap kekekehan struktur masyarakat dan kesetiaan pengikutnya. Tak seorang pembantunya pun mengeluh pernah dipukul atau dikejutkan oleh pukulannya terhadap benda-benda rumah.
Dalam kesibukannya ia masih bertandang ke rumah puteri dan menantu tercintanya, Fatimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib. Fathimah merasakan kasih sayangnya tanpa membuatnya jadi manja dan hilang kemandirian. Saat Bani Makhzum memintanya membatalkan hukuman atas jenazah seorang perempuan bangsawan, ia menegaskan;
“Sesungguhnya yang membuat binasa orang-orang sebelum kamu ialah, apabila seorang bangsawan mencuri mereka biarkan dia dan apabila yang mencuri itu seorang jelata mereka tegakkan hukum atasnya. Demi Allah, seandainya Fathimah anak Muhammad mencuri, maka Muhammad tetap akan memotong tangannya.”
Hari-harinya penuh kerja dan intaian bahaya. Tapi tak menghalanginya untuk berlomba jalan dengan Humaira (lebih dari satu dua kali), sebutan kesayangan yang ia berikan untuk Aisyah binti Abu Bakar Asshiddiq. Lambang kecintaan, paduan kecerdasan dan pesona diri dijalin dengan hormat dan kasih kepada Asshiddiq, sesuai dengan namanya “si Benar”. Suatu kewajaran yang menakjubkan ketika dalam sibuknya ia masih menyempatkan memerah susu domba atau menambal pakaian yang koyak. Setiap kali para sahabat atau keluarganya memanggil ia menjawab: “Labbaik”. Dialah yang terbaik dengan prestasi besar di luar rumah, namun tetap prima dalam status dan kualitasnya sebagai orang rumah.
Di bawah pimpinannya, lelaki menemukan jati dirinya sebagai lelaki dan pada saat yang sama perempuan mendapatkan kedudukan amat mulia.
“Sebaik-baik kamu ialah yang terbaik terhadap keluarganya dan akulah orang terbaik diantara kamu terhadap keluargaku. Tak akan memuliakan perempuan kecuali seorang mulia dan tak akan menghina perempuan kecuali seorang hina.” 
Demikian pesannya.
Disela 27 kali pertempuran yang digelutinya langsung (ghazwah) atau dipanglimai sahabatnya (sariyah) sebanyak 35 kali, ia masih sempat mengajar Al-Quran, sunnah, hukum, peradilan, kepemimpinan, menerima delegasi asing, mendidik kerumahtanggaan bahkan hubungan yang paling khusus dalam keluarga tanpa kehilangan adab dan wibawa. Padahal, masa antara dua petempuran itu tak lebih dari 1,7 bulan.
Setiap kisah yang dicatat dalam hari-harinya selalu bernilai sejarah. Suatu hari datanglah ke masjid seorang Arab gunung yang belum mengerti adab di masjid. Tiba-tiba ia kencing di lantai masjid yang berbahan pasir. Para sahabat sangat murka dan hampir saja memukulnya. Sabdanya kepada mereka : “Jangan, biarkan ia menyelesaikan hajatnya.” Sang Badui terkagum, ia mengangkat tangannya, “Ya Allah, kasihilah aku dan Muhammad. Jangan kasihi seorangpun bersama kami.” Dengan tersenyum ditegurnya Badui tadi agar jangan mempersempit rahmat Allah.
Ia kerap bercengkerama dengan para sahabatnya, bergaul dekat, bermain dengan anak-anak, Bahkan memangku anak-anak mereka di pangkuannya. Ia terima undangan mereka: yang merdeka, budak lelaki atau budak perempuan, serta kaum miskin. Ia jenguk rakyat yang sakit jauh di hujung Madinah. Ia terima permohonan maaf orang.
Ia selalu lebih dulu memulai salam dan menjabat tangan siapa yang menjumpainya dan tak pernah menarik tangan itu sebelum sahabat tersebut yang menariknya. Tak pernah menjulurkan kaki di tengah sahabatnya hingga menyempitkan ruang bagi mereka. Ia muliakan siapa yang datang, kadang dengan membentangkan bajunya. Bahkan ia berikan alas duduknya dan dengan sungguh-sungguh ia panggil mereka dengan nama yang paling mereka sukai. Ia beri merekakuniyah (sebutan bapak atau ibu si Fulan). Tak pernah ia memotong pembicaraan orang, kecuali sudah berlebihan. Apabila seseorang mendekatinya saat ia solat, ia cepat selesaikan solatnya dan segera bertanya apa yang diinginkan orang itu.
Pada suatu hari dalam perkemahan tempur ia berkata: “Seandainya ada seorang soleh mahu mengawalku malam ini”. Dengan kesadaran dan cinta, beberapa sahabat mengawal khemahnya. Di tengah malam terdengar suara gaduh yang mencurigakan. Para sahabat bergegas ke sumber suara. Ternyata ia telah ada disana mendahului mereka, tegak diatas kuda tanpa pelana, “Tenang, hanya angin gurun,” hiburnya. Nyatalah bahwa keinginan ada pengawal itu bukan karena ketakutan atau pemanjaan diri, tetapi pendidikan disiplin dan kesetiaan.
Ummul Mukminin Aisyah RA berkata: “Rasulullah SAW wafat tanpa meninggalkan makanan apapun yang bisa dimakan makhluk hidup, selain setengan ikat gandum di penyimpananku. Saat ruhnya dijemput, baju besinya masih digadaikan kepada seorang Yahudi untuk harga 30 gantang gandum.”
Sungguh ia berangkat haji dengan kenderaan yang sangat sederhana dan pakaian tak lebih harganya dari 4 dirham, seraya berkata, “Ya Allah, jadikanlah ini haji yang tak mengandung riya dan sum’ah.” Pada kemenangan besar saat Makkah ditaklukkan, dengan sejumlah besar pasukan muslimin, ia menundukkan kepala, nyaris menyentuh punggung untanya sambil selalu mengulang-ulang tasbih, tahmid dan istighfar. Ia tidak mabuk kemenangan.
Betapapun sulitnya mencari batas bentangan samudera kemuliaan ini, namun beberapa kalimat ini membuat kita pantas menyesal tidak mencintainya atau tak menggerakkan bibir mengucap shalawat atasnya: “Semua nabi mendapatkan hak untuk mengangkat doa yang takkan ditolak dan aku menyimpannya untuk umatku kelak di padang mahsyar nanti.”
Ketika masyarakat Thaif menolak dan menghinakannya, malaikat penjaga bukit menawarkan untuk menghimpit mereka dengan bukit. Ia menolak, “Kalau tidak mereka, aku berharap keturunan di sulbi mereka kelak akan menerima dakwah ini, mengabdi kepada Allah sahaja dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.”
Mungkin dua kata kunci ini menjadi gambaran kebesaran jiwanya.
Pertama, Allah: sumber kekuatan yang Maha dahsyat, kepada-Nya ia begitu refleks menumpahkan semua keluhannya. Ini membuatnya amat tabah menerima segala risiko perjuangan; kerabat yang menjauh, sahabat yang membenci, dan khalayak yang mengusirnya dari negeri tercinta.
Kedua, Ummati: hamparan akal, nafsu dan perilaku yang menentang untuk dibongkar, dipasang, diperbaiki, ditingkatkan dan diukirnya.
Ya, Ummati, tak cukupkah semua keutamaan ini menggetarkan hatimu dengan cinta, menggerakkan tubuhmu dengan sunnah dan uswah serta mulutmu dengan ucapan sholawat? Allah tidak mencukupkan pernyataan-Nya bahwa Ia dan para malaikat bershalawat atasnya (QS.Al Ahzab: 56), justeru Ia nyatakan dengan begitu “vulgar” perintah tersebut, “Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah atasnya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya dengan sebenar-benar salam.”
Allahumma shalli ‘alaihi wa’ala aalih!
Oleh : K.H.Rahmat Abdullah 
(Dikutip dari Buku Warisan Sang Murabbi, Pilar-pilar Asasi)

Jumat, 01 Maret 2013

Peta dunia jika dibalik akan membentuk tulisan "ALLAH" dan "MUHAMMAD"

Ternyata peta dunia kalau dibalik akan terbentuk tulisan ALLAH DAN MUHAMMAD .

Firman Allah :
"Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan di langit dan bumi dan agar dia termasuk orang yang yakin" (QS Al An'aam : 75)

Subhanallah

Semoga menambah keimanan kita kepada Allah SWT

Aaminn Allahumma Aamiin