Hukum Nikah Mut’ah
Hukum nikah mut’ah adalah haram, dengan kesepakatan para ulama salaf (terdahulu) dan khalaf (terkemudian). Kecuali menurut orang-orang Syi’ah, dan khilaf dengan mereka sama sekali tidak dianggap dalam hal ini dikarenakan Madzhab Syi’ah adalah aqidah dan ajaran yang menyimpang dan sesat.
Sedangkan, mengenai sebuah riwayat dari Ibnu Abbas RA, yang membolehkannya, para ulama menjelaskan bahwa pada waktu itu beliau belum mengetahui bahwa hadits yang beliau riwayatkan sudah dinasakh (dihapus oleh riwayat lainnya). Setelah mengetahuinya, beliau menarik kembali pendapatnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Sa’id bin Jubair RA, Ibnu Abbas RA pernah berpidato lalu berkata, “Ketahuilah bahwa mut’ah sama hukumnya seperti makan bangkai, darah, maupun daging babi.” Dari sini dapat dihukumi bahwa mut’ah hukumnya haram dengan kesepakatan para ulama.
Adapun jika ada golongan yang membolehkan, ketahuilah bahwa golongan tersebut adalah golongan yang sesat, karena bertentangan dengan ijma’ para ulama’, baik salaf maupun khalaf.
Dasar hukum haramnya nikah mut’ah, selain ijma’ para ulama’, adalah hadits Rasulullah SAW di bawah ini:
Dari Saburah Al-Juhani, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata, Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk bermut’ah ketika kami masuk kota Makkah pada tahun Fathu Makkah, kemudian sebelum kami keluar dari kota Makkah kami sudah dilarang untuk bermut’ah (HR Muslim).
Bahwasanya Rasulullah berkata, “Wahai manusia, sungguh aku pernah membolehkan kalian untuk melakukan mut’ah pada wanita-wanita ini, ketahuilah sesungguhnya Allah telah mengharamkan hal itu sampai hari Kiamat.” (HR Ibn Majah).
Nikah Mut’ah di Masa Awal Islam
Pada permulaan masa Islam, mut’ah diperbolehkan karena beberapa hal. Yang pertama, jumlah kaum muslimin pada waktu itu masih sedikit, sedangkan Allah dan Rasul-Nya memerintahkan mereka untuk berjuang memerangi kaum musyrikin. Perjuangan yang mereka lakukan acap menjadikan mereka tak dapat menanggung nafkah istri dan mengurusi keluarga, apalagi saat itu kondisi keuangan kaum muslimin sangat tidak mendukung.
Kedua, mereka adalah para muallaf yang baru masuk Islam. Sebelumnya, mereka memeluk agama atau kepercayaan jahiliyah, yang membolehkan seseorang kawin dengan siapa saja dan berapa saja, juga mengawini dan menceraikan sesuka hati mereka. Dapat dibayangkan bagaimana keadaan mereka yang seperti itu ketika berperang, dengan tidak membawa serta istri-istri mereka, sedangkan syahwat kepada perempuan merupakan fithrah setiap manusia.
Agama Islam membolehkan pernikahan mut’ah di awal masa perkembangan karena situasi yang masih serba darurat pada waktu peperangan tersebut. Setelah hilang kedaruratannya, hukum nikah mut’ah menjadi haram untuk selama-lamanya sampai hari Kiamat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar